
Pada 11 Mei 2023, Universitas Indonesia (UI) dan Korea Foundation (KF) menyelenggarakan konferensi bertajuk "The Indonesia-Korea Golden Anniversary Conference: Strengthening Partnership for Tomorrow" dalam rangka peringatan tahun emas hubungan Indonesia-Korea.
Bertempat di Auditorium Mochtar Riady Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), konferensi ini menghadirkan pihak-pihak dari instansi pemerintah, akademisi, dan para pemangku kepentingan dalam hubungan Indonesia-Korea.
Pembukaan Konferensi
Konferensi diawali dengan sambutan dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistyanto. Ia menyampaikan pentingnya konferensi ini dalam menyebarkan pemahaman lintas budaya, mendiskusikan potensi industri kreatif Indonesia, dan menyampaikan harapan untuk masa depan hubungan Indonesia-Korea.
Sementara itu, Duta Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia, Lee Sang-deok, menyatakan bahwa Indonesia adalah mitra penting Korea Selatan. Ia juga menyampaikan pendapat bahwa kerjasama antara kedua negara akan menjadi multidimensi. Ia pun menambahkan bahwa akan ada upaya untuk memperluas promosi budaya Indonesia di Korea Selatan.
Senada dengan pernyataan Dubes Lee Sang-deok, Kepala Kantor KF di Jakarta, Choi Hyun-soo, dalam sambutannya juga optimis bahwa kerja sama Indonesia-Korea akan lebih erat.
Sebelum konferensi dibuka, Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto, menyampaikan bahwa akan terdapat lebih banyak bentuk kerja sama Indonesia dan Korea di masa depan. Ia juga berharap agar banyak pihak dapat mengapresiasi kontribusi generasi muda dalam mempererat hubungan kedua negara.
Isu dalam Panel Diskusi
Setelah dibuka, konferensi dilanjutkan dengan diskusi panel. Terdapat tiga sesi diskusi, dengan sesi pertama membahas perkembangan studi Indonesia di Korea dan studi Korea di Indonesia. Prof. Choi Kyung-hee dari Asia Center Seoul National University, dan Eva Latifah, Ph.D. dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), menjadi pembicara dalam sesi ini.

Prof. Choi menyampaikan bahwa kini, ketertarikan terhadap Indonesia lingkup akademik mulai muncul. Hal ini dibuktikan dengan telah dibangunnya sejumlah pusat studi Indonesia di Korea. Sementara itu, Eva Latifah, Ph.D., menyampaikan pengaruh Hallyu terhadap pembukaan program studi Korea di Indonesia dan menyoroti tantangan yang dihadapi.
Diskusi panel kedua membahas dampak sosial-ekonomi dari budaya populer. Pembicara pada sesi ini adalah Prof. Andrew Eungi Kim dari College of International Studies Korea University, dan Makbul Mubarak, seorang sutradara dan penulis skenario.

Dalam paparannya, Prof. Kim menyajikan fakta menarik tentang ekspor produk budaya Korea yang melebihi ekspor produk lain seperti produk pertanian, kosmetik, mobil listrik, dan peralatan rumah tangga. Sementara itu, Mubarak menyampaikan tentang bagaimana budaya populer Korea mendunia sejak tahun 1990-an hingga kini.
Harapan untuk Masa Depan
Pada diskusi panel ketiga, para panelis berdiskusi dengan tema “Kemitraan Strategis Spesial Korea-Indonesia: Masa Kini dan Masa Depan.” Pembicara pada sesi ini adalah Prof. Cho Wondeuk dari Center for ASEAN-Indian Studies Korean National Diplomatic Academy dan Vahd Nabyl A. Mulachela dari Direktorat Asia Timur Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Prof. Cho Wondeuk menekankan pentingnya menciptakan perspektif strategis jangka panjang tentang perdamaian dan kemakmuran antara Indonesia dan Korea. Vahd Nabyl pun menyetujui pernyataan tersebut dan menambahkan bahwa Indonesia dan Korea memiliki kesamaan dalam menjaga hubungan internasional. Menurutnya, kebijakan keduanya tidak hanya akan menguntungkan dalam konteks bilateral, tetapi juga bagi pihak-pihak lain.
Dalam diskusi panel sesi ketiga, salah satu peserta diskusi, Prof. Evi Fitriani dari FISIP UI, menyampaikan harapannya tentang hubungan Indonesia-Korea. Ia berharap bahwa peringatan 50 tahun hubungan kedua negara dapat meningkatkan kerja sama yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga para ilmuwan nantinya dapat memberikan rekomendasi guna kembali mempererat kerja sama Indonesia-Korea pada bidang mereka masing-masing.
Usai diskusi panel sesi ketiga, konferensi pun ditutup pada pukul 17.30 WIB. Melalui konferensi ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Indonesia dan Korea adalah hubungan kemitraan strategis yang memberikan dampak positif dalam berbagai aspek. Melalui semangat kerjasama yang kuat dan komitmen bersama, Indonesia dan Korea siap membuka babak baru sejarah hubungan kedua negara.
How about this article?
- Like6
- Support0
- Amazing1
- Sad0
- Curious0
- Insightful0