
Opera kreatif "The Wedding Day" dari New Seoul Opera berhasil dipentaskan pada 15 dan 16 Mei 2024 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan yang melibatkan sekitar seratus pemain dan staf ini menggabungkan seni suara, musik, tari, dan drama dalam gelaran bertema pernikahan tradisional Korea. Penulis berkesempatan menyaksikan opera tersebut secara langsung pada 16 Mei 2024. Tak hanya menampilkan drama, opera kreatif “The Wedding Day” memadukan elemen kesenian Korea dan Barat serta menampilkan berbagai bentuk kebudayaan Korea mulai dari tari hingga samulnori.
Elemen Kesenian dalam Opera
Drama
Melalui karakter Gappuni, Ippuni, dan Mi-eon, opera ini menggambarkan cinta sejati akan dapat menemukan takdirnya. Kisah keluarga Maeng Jinsa yang ambisius pun memberikan pelajaran tentang pentingnya bersikap tulus dan tidak tamak. Pesan moral cerita dari opera “The Wedding Day” tetap relevan hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap dijunjung.

Opera dan Orkestra
Cerita opera "The Wedding Day" menjadi hidup berkat nyanyian dan musik yang ditampilkan secara apik oleh para penyanyi dan musisi orkestra. Orkestra yang mengiringi pertunjukan ini dibawakan Coreana Classica Orchestra dan dialog-dialog karakter dibawakan oleh para vokalis dari MET Opera Chorus. Kolaborasi keduanya menciptakan harmoni yang memukau, membawa penonton terhanyut dalam alur cerita.
Tari Tradisional Korea
Dalam opera kreatif, ditampilkan sejumlah tari tradisional Korea, yaitu musok-chum dan hwagwan-mu. Tarian-tarian yang ditampilkan oleh DIDIM Dance Company tadi memiliki maknanya masing-masing.
Musok-chum adalah tarian tradisional Korea yang dilakukan oleh mudang atau syaman. Tarian ini berakar pada ritual keagamaan dan bersifat spiritual. Tarian ini melibatkan berbagai gerakan yang melambangkan interaksi syaman dengan dunia spiritual. Biasanya, tarian ini diiringi dengan musik tradisional Korea. Namun dalam opera, tarian ini diiringi oleh orkestra yang ritmis.

Sementara itu, hwagwan-mu adalah tarian yang dikenal dengan mahkota bunga yang dibawa oleh penarinya. Hwagwan-mu ditarikan dengan gerakan yang anggun dan elegan. Penampilan hwagwan-mu menjadikan suasana bahagia dalam cerita dirasakan secara mendalam oleh penonton.
Samulnori
Samulnori adalah pertunjukan perkusi tradisional Korea yang terdiri dari kkwaenggwari (gong kecil), jing (gong besar), janggu (gendang berbentuk jam pasir), dan buk (gendang). Pertunjukan samulnori dengan irama yang dinamis dan enerjik membuat suasana perayaan di adegan upacara pernikahan terasa meriah.

Pertunjukan Kesenian dalam Konteks Hubungan Korea-Indonesia
Dilansir dari program book “The Wedding Day”, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Lee Sang Deok, dalam sambutannya menyampaikan bahwa opera ini adalah salah satu bukti walaupun Korea dan Indonesia terpisah secara geografis, keduanya dapat membangun hubungan kerja sama dan persahabatan yang erat.
Dalam sumber yang sama, Direktur New Seoul Opera, Hong Ji Won pun mengungkapkan rasa syukurnya, "Kami sangat tersentuh dengan kenyataan bahwa opera asli Korea debut untuk pertama kalinya di Indonesia." Beliau juga menyampaikan harapan bahwa dengan berlangsungnya opera kreatif ini, pertukaran budaya antar dua negara menjadi aktif dan memperluas kesempatan masyarakat Indonesia dan Korea untuk saling memahami dan menjadi lebih dekat.

Pertunjukan opera "The Wedding Day" tak hanya memperkenalkan kesenian dan budaya Korea kepada audiens internasional, tetapi juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk lebih terhubung dengan budaya Korea melalui pengalaman mengenakan hanbok dan berinteraksi dengan para vokalis, penari, serta para seniman penampil.
Pertunjukan yang memperingati momentum 40 tahun persahabatan kota Seoul dan Jakarta ini juga menjadi sarana memperkaya pemahaman budaya antara kedua negara. Penulis pun berharap agar di masa depan diselenggarakan lebih banyak pertunjukan seni yang kreatif dan kolaborasi lintas budaya antara Korea dan Indonesia.
How about this article?
- Like0
- Support0
- Amazing1
- Sad0
- Curious0
- Insightful0