Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Republik Korea melalui King Sejong Institute Foundation bersama King Sejong Institute Surabaya kembali gelar 'Sejong Culture Academy' tahun 2024. Pada rangkaian tahun ini, KSI Surabaya membuka kelas mempelajari Musik Tradisional Korea (Samulnori) dan Tari Kipas Tradisional Korea (Buchaechum).

Penulis berkesempatan untuk mempelajari Tari Kipas Tradisional yakni Buchaechum. Buchaechum merupakan salah satu tarian tradisional Korea yang biasanya ditampilkan secara berkelompok oleh penari wanita yang masing-masing menggunakan dua buah kipas. Tarian ini memiliki makna nama Buchae yang berarti kipas, dan Chum yang bermakna tarian. Tarian ini diperkenalkan pertama kali oleh penari dan koreografer Kim Baek Bong, dengan menggabungkan tarian tradisional untuk menciptakan bentuk seni.
Kelas ini berlangsung selama 3 hari, yang dimulai pada Jumat (1/11) hingga Minggu (3/11). Kelas Buchaechum dibimbing oleh Na Hyun A Seonsaengnim, beliau merupakan budayawan atau cultural experts yang didatangkan langsung dari Korea.

Pada hari pertama (1/11), penulis dan teman-teman yang lain diajarkan untuk memegang kipas dan bagaimana cara mengendalikannya ketika bernari. Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari koreografi dari tarian Buchaechum.
Pada hari kedua (2/11), melanjutkan koreografi yang telah dipelajari, kemudian mulai mempelajari pola lantai. Pada saat itu, penulis memiliki kesan kagum, karna tentu saja tarian ini bukanlah tarian yang mudah, namun Seonsaengnim mengajarkannya dengan baik, oleh karena itu penulis dan teman-teman merasa semakin semangat.

Pada hari ketiga (3/11), penulis dan teman-teman peserta Sejong Culture Academy(SCA) lainnya, memantapkan apa yang telah dipelajari, kemudian penulis mencoba pakaian hanbok, yang dipakai saat menari Buchaechum.
Pada hari Senin (4/11), penulis dan peserta SCA yang lain berkesempatan untuk menampilkan tarian ini pada malam acara "2nd K-pop star 2024" yang diselenggarakan oleh KSI Surabaya.
Pengalaman yang singkat ini tentu saja memberikan dampak yang akan membekas lama, selain dapat mempelajari budaya Korea secara komprehensif, penulis juga bertemu dengan teman-teman yang memiliki hobi atau ketertarikan yang sama.

Menurut penulis, mempelajari budaya, yang dalam hal ini adalah tarian, bukan sesuatu yang mudah dilakukan, ditambah hanya dengan waktu singkat, yakni 3 hari. Tarian ini juga merupakan tarian berkelompok yang sangat membutuhkan kekompakan. Namun, hal ini justru memberikan kesan unik, menyenangkan, dan menantang.

Melalui kegiatan ini, pengetahuan penulis mengenai budaya Korea khususnya Buchaechum, semakin mendalam. Dengan keterampilan yang telah didapat penulis, selanjutnya akan penulis sebarkan kepada masyarakat umum, dengan harapan kebudayaan Korea lebih dikenal dan mendunia.
Program ini tidak hanya diperuntukkan untuk murid King Sejong Institute, melainkan terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mempelajari budaya Korea. Kegiatan ini juga tidak dikenakan biaya (gratis). Untuk teman-teman yang ingin mempelajari budaya Korea dari ahli yang juga seorang native, yuk tunggu informasi 'Sejong Culture Academy' di tahun 2025.
#2024SejongCultureAcademy #KingSejongInstituteFoundation #KoreanCulture
How about this article?
- Like2
- Support0
- Amazing1
- Sad0
- Curious0
- Insightful0